SHARE YA KAK!, Jakarta — Menjelang Ramadan 2026, pinjaman online kembali menunjukkan pola lama: penyaluran meningkat, sementara risiko gagal bayar ikut membayangi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi lonjakan pinjol tak terelakkan seiring naiknya kebutuhan konsumsi masyarakat dan modal usaha musiman.
Media Bisnis Indonesia melaporkan OJK memperkirakan penyaluran pinjol akan tumbuh sekitar 3 hingga 7 persen secara bulanan selama Ramadan 2026. Pertumbuhan ini dinilai lebih moderat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun tetap mencerminkan tekanan ekonomi rumah tangga yang belum sepenuhnya pulih.
“Permintaan pembiayaan biasanya meningkat pada periode Ramadan dan Idul Fitri, baik untuk konsumsi maupun modal kerja,” tulis Kumparan Bisnis, mengutip pernyataan OJK soal pola tahunan pinjaman online jelang puasa.
Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) juga menyampaikan optimisme serupa. Bisnis.com mencatat AFPI menilai pembiayaan pinjol untuk modal kerja UMKM masih akan menjadi motor utama pertumbuhan selama Ramadan. Namun, AFPI mengingatkan bahwa dominasi pinjaman konsumtif tetap menjadi tantangan serius bagi industri.
Di balik pertumbuhan itu, kualitas kredit justru memburuk. OJK mencatat Tingkat Wanprestasi 90 hari (TWP90) pinjaman online melonjak dari 2,76 persen menjadi 4,33 persen per November 2025. Kontan.co.id menulis, OJK secara terbuka mengingatkan potensi lonjakan kredit macet selama Ramadan akibat meningkatnya kebutuhan dana masyarakat.
“Ramadan selalu diikuti kenaikan permintaan pinjol, dan ini harus diwaspadai karena berpotensi meningkatkan risiko gagal bayar,” tulis Kontan, mengutip pernyataan regulator.
Data historis memperkuat kekhawatiran tersebut. Tempo melaporkan bahwa selama Ramadan tahun-tahun sebelumnya, penyaluran pinjol melonjak signifikan, dengan porsi terbesar berasal dari pinjaman konsumtif. Hingga November 2025, total utang pinjol resmi tercatat menembus Rp94,85 triliun.
Lonjakan utang juga terlihat jelas pada periode Lebaran. Media Suara Pemred Kalbar mengutip data OJK yang mencatat total utang pinjol dan paylater mencapai Rp78,5 triliun saat Lebaran 2025. Angka itu menunjukkan betapa dalam ketergantungan masyarakat terhadap utang jangka pendek untuk menutup kebutuhan musiman.
Menurut OJK, tekanan inflasi pangan, kenaikan biaya hidup, dan stagnasi pendapatan membuat banyak peminjam menggunakan pinjol untuk konsumsi, bukan aktivitas produktif. Pola ini memperbesar risiko gagal bayar setelah Lebaran, ketika pemasukan kembali normal tetapi cicilan tetap berjalan.
Sejumlah pengamat yang dikutip Tempo menilai fenomena ini bersifat siklis: setiap Ramadan utang meningkat, dan setelah Lebaran kredit macet menyusul. Namun dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, siklus tersebut berpotensi meninggalkan dampak sosial yang lebih dalam.
Ramadan yang seharusnya menjadi bulan menahan diri kembali memperlihatkan ironi lama. Ketika kebutuhan naik dan pendapatan tak bergerak, pinjaman online menjadi jalan pintas. Cepat, mudah dan kerap berujung pada jerat utang yang kian sulit dilepaskan.
(Red/Vendetta)


