SHARE YA KAK!, Jakarta - Lebih dari enam ribu lulusan magister dan doktor di Indonesia tercatat menganggur dan telah berhenti mencari pekerjaan karena putus asa. Data ini diungkap Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik Februari 2025.
Dalam laporan Labor Market Brief Volume 6 Nomor 11 yang disusun peneliti LPEM FEB UI Muhammad Hanri dan Nia Kurnia Sholihah, kelompok lulusan S2 dan S3 tersebut dikategorikan sebagai discouraged workers, yakni angkatan kerja yang memilih berhenti mencari pekerjaan karena berulang kali gagal mendapatkan kerja. “Lebih dari 6.000 lulusan pascasarjana masuk kelompok putus asa,” tulis laporan itu, seperti dikutip DetikEdu.
Angka tersebut merupakan bagian dari total 1,87 juta penduduk usia kerja di Indonesia yang tercatat sudah putus asa mencari pekerjaan. Jumlah itu meningkat sekitar 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 1,68 juta orang. LPEM FEB UI menilai tren ini menunjukkan memburuknya kualitas penyerapan tenaga kerja, termasuk bagi kelompok berpendidikan tinggi.
Selain lulusan S2 dan S3, laporan yang sama mencatat sekitar 45.000 lulusan sarjana juga berada dalam kondisi serupa. Meski secara proporsi kelompok berpendidikan rendah masih mendominasi, keberadaan puluhan ribu lulusan perguruan tinggi dalam kategori putus asa dinilai sebagai sinyal serius adanya ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.
Badan Pusat Statistik sebelumnya juga melaporkan lonjakan pengangguran terbuka pada lulusan magister. Sepanjang Februari 2025, tingkat pengangguran lulusan S2 meningkat hingga 15,92 persen secara tahunan dan menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Media NTBSatu melaporkan lonjakan ini dipicu minimnya lapangan kerja yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan tinggi, terutama di sektor formal.
LPEM FEB UI mencatat beberapa faktor utama yang mendorong lulusan pascasarjana memilih berhenti mencari kerja. Di antaranya ekspektasi gaji yang tidak terpenuhi, ketidaksesuaian bidang studi dengan lowongan yang tersedia, serta persepsi diskriminasi usia karena lulusan S2 dan S3 umumnya masuk pasar kerja pada usia lebih tua. Keterbatasan pengalaman kerja dan akses informasi pasar kerja juga memperparah kondisi tersebut.
Fenomena ini, menurut LPEM FEB UI, merupakan indikator dini kerapuhan pasar tenaga kerja. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan Bank Dunia kerap menggunakan indikator discouraged workers untuk membaca tekanan struktural dalam perekonomian. Jika dibiarkan, kondisi ini berisiko memperlebar kesenjangan sosial dan menurunkan produktivitas nasional.
Dari sisi demografi, kelompok laki-laki mendominasi lulusan pascasarjana yang putus asa, dengan proporsi mencapai sekitar 69 persen. Namun perempuan dinilai menghadapi hambatan tambahan berupa keterbatasan lowongan kerja yang ramah gender dan fleksibilitas kerja yang rendah.
LPEM FEB UI menyimpulkan meningkatnya jumlah lulusan S2 dan S3 yang menganggur dan putus asa mencerminkan kegagalan sistem pendidikan dan pelatihan dalam menjembatani lulusan dengan kebutuhan riil pasar kerja. Tanpa perbaikan kebijakan ketenagakerjaan dan arah pembangunan industri berbasis pengetahuan, fenomena ini berpotensi terus berulang dalam beberapa tahun ke depan.
(Red/Vendetta)


